|

Ba’da sholat jum’at di konsulat RI Frankfurt am Main, saya, Mas Tegas dan Ust. Syams* sama - sama menuju U-Bahn Haltestelle (Stasiun kereta Bawah Tanah) Bockenheimer Warte. Di persimpangan kami bersalaman untuk berpisah, karena saya akan kembali ke Darmstadt. Ust. Syams menawarkan untuk untuk makan siang di rumahnya. Tanpa pikir panjang saya terima tawarannya, sebab tidak pernah ada kesia–siaan jika waktu yang saya miliki, saya habiskan dengan beliau, walaupun hanya sekedar ngobrol biasa.
Sambil menyantap makan siang yang sungguh luar biasa, bikin ingat rumah, plus sambel khas Indonesia yang jarang ditemui di itempat lain. Diskusi perlahan lahan dimulai. Berangkat dari tulisan beliau yang berjudul „Cendikiawan Iblis“ di Hidayatullah.com. Beliau termasuk salah satu penulis yang produktif, dan tulisan tulisannya adalah buah pikiran yang sederhana namun luar biasa dan tidak terfikirkan oleh orang lain.
Sebetulnya apa yang menjadi sebab kemunduran science Islam?
Mungkin jawaban sederhananya adalah manusia islam yang kini telah jauh dari nilai – nilai islam itu sendiri (al-qur’an). Namun, ada jawaban yang dikatakan oleh ust. Syams ini yang tidak terfikirkan sebelumnya. Saya akan paparkan penjelasan beliau yang saya terima dimeja makan saat itu. (Makan sambil kuliah)
Marilah kita tengok kembali masa–masa keemasan islam dulu, dimana ilmuwan muslim adalah tonggak science pada waktu itu dan hingga kini ilmu mereka diterapkan dan menjadi dasar science modern. Mengapa demikian maju ?
Semua itu dikarenakan ummat islam saat itu menjalankan agama sebagai ‚dogma’ (dogma adalah hal yang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat lagi) karena memang ajaran islam adalah dien yang benar yang datangnya dari Allah yang bersifat mutlak. Kemudian ummat islam saat itu menjadikan science (ilmu pengetahuan) sebagai hal yang terus digali, difikirkan, dikritisi, how and why-nya. itulah penyebab maju dan berkembang pesatnya science saat itu. Agama tidak mengganggu science, bahkan mendorong, memotivasi dan berjalan seiring dengan science. Namun kondisi ummat saat ini adalah kebalikannya. Mereka menjadikan science sebagai dogma tapi agama di-science-kan. Agama dikritisi. Padahal agama islam itu mutlak walau tidak semuanya merupakan dogma. Contohnya saja, kini banyak berkembang islam liberal yang mengedepankan pikiran mereka, seolah – olah pikiran merekalah yang paling benar, hanya menerima yang diterima oleh rasio. Agama diobok – obok, dan science sendiri dijadikan dogma. Teori – teori yang ada saat ini tidak lagi digali kembali, dikritisi kembali, puas oleh hasil hasil yang diperoleh oleh para ilmuwan seperti Einstein, Newton, Galileo dan seterusnya.
Yang lebih parah, di Indonesia dan negara – negara berkembanglah hal seperti ini terjadi. Di negara maju, walaupun agama mereka science-kan, karena banyaknya kejanggalan dalam agama, tapi science tetap mereka jadikan sebagai science, bukan dogma. Saya rasa pantas kalau dinegara maju seperti Jerman misalnya agama di-science-kan, karena memang agama yang ada dan berkembang dari dahulu bukan lagi agama tauhid yang dibawa oleh nabi Isa A.S. Melainkan sudah dirubah oleh tangan - tangan pendeta. Tentu saja, ketika science yang mereka pelajari bertentangan dengan agama yang mereka anut, maka mereka mempertanyakan kebenaran agamanya. Sehingga pantas ketika itu gereja melarang science, menghukum ilmuwan. Sebagai contoh, ditulis dalam sebuah buku, bahwa pernah ada pihak gereja yang meminta seorang ilmuwan untuk memastikan umur bumi untuk ditulis dalam bibel, ketika ilmu yang sangat luas itu berkembang, dengan karbon bisa mengetahui umur sebuah benda, maka dalam hal ini terungkaplah kesalahan dalam kitab bibel.
Agama di-science-kan dan science di-dogma-kan adalah kacau, science itu tidak lagi berkembang, dan para penganut agama disesatkan.
Fenomena yang ada sekarang, diindonesia science di-dogma-kan, teori evolusi yang kini telah banyak ditentang dan dipatahkan masih menjadi kurikulum sekolah indonesia. Ketika seorang murid menonton vcd harun Yahya misalnya, tentang kesalahan teori evolusi dan bertanya kepada gurunya, maka guru tidak bisa menjawab pertanyaan si murid, karena memang apa yang diajarkan itu salah. Dan sebaliknya agama di-science-kan, aturan sholat yang disyariatkan memakai bahasa arab dirubah menjadi bahasa indonesia, bahkan tidak sedikit pemikiran pemikiran liar yang mengaduk – ngaduk ajaran tauhid. Padahal pikiran itu adalah ciptaan Allah, kini pikiran mau menentang apa yang dikatakan Allah dalam Al-Qur’an.
***
Setelah panjang dan lebar berdiskusi, walau pun saya cuma sesekali berkomentar tapi menjadi pendengar dan murid yang baik, sampailah kepada ide tentang sebuah Philosophy of Science, filsafat ilmu pengetahuan, bagaimana mengapa sejarahnya dan semua tentang ilmu pengetahuan. Pentingnya sebuah Philosophy of Science, agar kita tidak hanya belajar tentang science itu tapi mengerti apa itu science. Student harus tahu bagaimana para ilmuwan islam itu tahu, sejarahnya, bagaimana mereka menggali dan juga BAGAIMANA KITA BER-SCIENCE agar tidak keluar dari jalur akidah dan nilai islam yang mutlak. Para kandidat doktor ini sepakat untuk sedikit demi sedikit membuat sebuah coret – coret tentang Philosophy of Science agar paling tidak mahasiswa mereka tahu bagaimana caranya menuntut ilmu itu. Syukur alhamdulillah, jika Philosophy of Science masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.
Semoga tulisan yang sedikit dan sederhana ini bisa membuka pikiran kita, membagi informasi sedikit tentang “Philosophy of Science” serta memikirkannya. Wallahualam bishowab, sesungguhnya kebenaran itu mutlak datangnya dari Allah ta’ala, jika ada kekeliruan maka itulah kebodohan manusia, oleh karenanya segeralah berikan koreksi apabila ada sebuah kesalahan. Hanya Allah yang maha memiliki segala ilmu.
Darmstadt, 10. Juni 2005
*) Beliau adalah Syamsudin Arif Ph.D., setelah menyelesaikan program doktornya di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, Malaysia lalu beliau kembali menyelesaikan doctor yang kedua nya di Universität Johann Wolfgang Goethe Frankfurt am Main (Disertations Project : “Seyf al-Din al-Amidi und sein Abkar al-Afkar”). Saat ini beliau menjadi pengajar dan asisten Profesor di IIU Malaysia. Seorang guru yang ilmunya ada di mana–mana, dikereta, di rumah, di meja makan, juga di dalam langkah langkah dakwahnya di setiap kantong–kantong pengajian kota.
|