Ilmu Burem PDF Print E-mail
Written by Tito Prabowo   
Saturday, 06 August 2005 21:08

Hari ini saya baru saja mengambil schein, yaitu sertifikat bahasa yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa TU Darmstadt. Selembar kertas buram diberikan kepada saya sebagai bukti bahwa saya telah lulus dalam mengikuti kursus „Reading and Speaking“. Dengan kertas itu saya bisa mendapat credit point untuk bisa  menulis Bachelor Thesis. Bicara soal kertas buram, saya jadi ingat seorang sahabat yang dulu penah menunjukan ijasah Dipl. Ing.-nya kepada saya. Ijasah yang setara dengan Master of Science itu tertulis biasa di atas sebuah kertas yang juga buram!


Mungkin buat saya belum apa–apa. Tapi ijasah beliau terbuat dari kertas buram. „mungkin“ boleh dibilang itu  adalah salah satu „kelebihan“ kuliah di Jerman. Yaitu ilmu „burem“.

Sahabat saya itu juga bercerita, bahwa ketika ia mengambil ijasahnya di kantor sekretariat salah satu Universitas di Jerman tidak ada yang namanya pesta atau perayaan. Semua berjalan simple, tidak ada wisuda, tidak ada jas almamater. Yang ia dapatkan cuma ucapan selamat dari penjaga sekretariat. Bahkan beberapa cerita dari teman yang lain, kalau petugas sekretariat sedang jutek maka kita tidak mendapat ucapan selamat sedikit pun.

Kalau diselami lebih jauh, memang bukanlah di situ esensi dari kita menuntut ilmu. Judulnya saja menuntut ilmu, bukan menuntut penghargaan atau ijasah. Jadi yang sudah benar apa yang mereka lakukan, mereka sudah memberikan ilmu dan selesai tugas mereka.

Walaupun kalau dilihat sepintas. Kita sudah susah payah lima tahun kuliah, praktikum, sambil kerja, segala macam kerjaan untuk sekedar menyambung kuliah, tapi di akhir perjuangan, cuma mendapat selembar kertas buram. Barangkali pihak universitas ingin juga menyadarkan mahasiswanya untuk sadar akan tujuannya kuliah.

Di samping itu, pelajaran kedua yang bisa kita petik adalah  jangan pernah lihat sesuatu itu dari tampilan luar. Saya jadi teringat waktu masa SMU dulu. Dulu saya sempat bingung memilih bimbingan belajar. Yang satu itu memiliki gedung keren, ada tempat parkir, ada kantinnya. Yang satu lagi hanya bertempat di perumahan, bangunannya biasa, mungkin kalau tidak ada spanduk, orang tidak akan mengira kalau itu adalah tempat bimbingan belajar. Tapi keduanya memiliki reputasi pindidikan yang sama bagusnya. Sudah terkenal di telinga para siswa SMU. Cabang mereka pun tersebar di seluruh pulau Jawa. Waktu itu ayah saya mengatakan, „Jangan lihat luarnya“, nasihat itu saya ikuti, saya pilih bimbingan yang biasa saja tampilannya itu, dan subhanallah, dari situlah ternyata cerita perjalanan saya ke Eropa dimulai.

Pelajaran ketiga adalah efesiensi. Universitas itu bukanlah miskin, sehingga mencetak ijasah dengan kertas buram. Professor di sana digaji sangat tinggi. Fasilitas kampus luar biasa. Satu jurusan bisa ada puluhan institut yang masing–masing punya penelitian sendiri–sendiri, dan tentunya semua itu memakan dana yang sangat besar. Kalau memang bisa pakai kertas yang lebih murah kenapa harus pakai yang lebih mahal. Memang tidak semua universitas memakai kertas buram sebagai kertas ijasahnya, tapi hampir semua universitas menggunakan kertas buram untuk administrasi, soal–soal ujian, soal–soal latihan dan sebagainya. Efesiensi adalah salah satu karakter Jerman yang sangat mencolok.

Pelajaran terakhir adalah cinta lingkungan. Dengan kertas buram itu, maka akan lebih mudah dan cepat untuk didaur ulang. Tidak aneh kalau para pecinta lingkungan pun terjun ke dunia politik dengan nama partai Die Grüne. Si Hijau.

Semoga tulisan pendek ini bisa membuat kita paling tidak berfikir, apakah ilmu yang kita cari sudah didapatkan atau cukup puas dengan ijasah. Disalah satu lagu bang Iwan, ada sebuah ungkapan, yaitu „sarjana roti“, yang skripsi beli, tapi gayanya bak professor. Mudah–mudahan kita bukan sarjana roti, tapi sarjana betulan. Dan pertanyaan kedua adalah, sejauh mana efesiensi yang telah kita lakukan?

Liburan Musim Panas 2005
Darmstadt


blog comments powered by Disqus
Last Updated on Tuesday, 09 March 2010 00:26
 

Inspirasi

Kunci
Segala sesuatu ada kuncinya untuk bisa dibuka. Wudhu adalah ...
Solusi
Andai kesusahan adalah hujan, dan kesenangan adalah mataha...
Inspirasi Gerak
Pemuda, tidak pernah menutup mulutnya karena ketakutan. Pemu...

Opini

Jakarta, Tempat Berkarir Paling Beresiko Kedua di Dunia
Indonesia, negeri yang termasuk negara yang paling terpengaruhi oleh korupsi di dun...
Genteng Bocor
Suatu sore di sebuah rumah, tinggal empat mahasiswa yang baru saja diterima di sala...

Nasihat

Tiga Nasihat Yang Tiga
Tiga perkara yang selalu menyelamatkan: Takut kepada Allah lahir batin. Hemat saa...
Sedekah
Sedekah adalah tanda dekatnya ia kepada Sang Maha Kaya. Karena ia merasa cukup. Karen...

More blog posts

Renungan Indah
Seringkali aku berkata,ketika semua orang memuji milikku,Bahwa sesungguhnya inihanyal...
Rumah Bahagia
Ini kisah tentang sebuah cerita,yang mungkin cuma sebuah mimpi.Cerita sebuah rumah ba...

Who's Online

We have 11 guests online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter