| Kong Willy |
|
|
|
| Written by Tito Prabowo | |||
| Thursday, 21 September 2006 23:46 | |||
|
Siang itu matahari tidak terlalu terik, tapi cukup untuk membuat saya bersembunyi dibalik dinding menara Willy-Brand-Platz sambil menunggu tram yang datang. Lalu kedua mata saya tertarik untuk mengamati gerak seorang dua orang kakek tua yang menyebrang jalan tepat dihadapan saya. Mungkin mereka terburu-buru sehingga tidak menyebrang pada tempat yang sudah ditentukan.
Yang satu terlihat masih segar bugar. Melangkah dengan gagahnya melintasi jalan yang sepi itu. Satu lagi terlihat cukup mengkhawatirkan. Jalannya sangat hati-hati, perlahan demi perlahan, bahkan tongkatnya pun tak lagi bisa membantu keseimbangan tubuhnya. Tubuhnya sering kali sedikit oleng. Saya belum berani untuk mengahampiri dan membantunya menyebrang, sebab seringkali saya malah mendapat caci ketika menolong seorang tua di Jerman. Orang bilang mereka merasa terhina jika ditolong, karena dianggap sudah tidak mampu lagi. Kakek satunya yang gagah itu sudah berlalu entah kemana. Dan kini dengan segala daya dan upaya ia sudah berhasil menyebrangi jalan itu. Tapi cerita belum usai. Masih ada sebuah jalur tram yang harus ia sebrangi. Dengan sabarnya ia meniti jalannya. Permukaan jalur tram yang tidak rata membuatnya makin sering oleng. Tram yang ditunggu sudah datang. Si Kakek hampir berhasil, namun laju tram tentunya lebih cepat. Tanpa pikir panjang saya hampiri dan meraih tangan Si Kakek untuk berjalan lebih cepat. Pak Sopir tram terlihat mencoba segera mengerem laju kendaraannya itu, tapi masih belum cukup. Dan alhamdulillah, hanya selisih beberapa centi antara tram dengan tubuh Si Kakek. Ia lalu menatap wajah saya. Dan sambil tersenyum manis berkata, “Danke schön”, terima kasih. *** Sambil melihat keluar jendela, memandangi wajah-wajah manusia berbagai usia. Rasanya baru kemarin saya memakai celana SD, sekarang saya sudah berada jauh dari negeri dan hampir mengakhiri kuliah saya. Rasanya baru kemarin ramadhan itu, sekarang sudah datang lagi bulan yang dinanti. Hidup itu terasa begitu cepat. Mungkin akan terasa sangat lebih cepat ketika kita nanti berkumpul di hari perhitungan. Mungkin sekarang saya masih kuat, tapi besok bukan tidak mungkin, saya lah Si Kakek itu. Menjadi manusia lemah tak berdaya.
-- *) Kong = engkong = Kakek, Willy: Nama tempat di kota Darmstadt, dimana kejadian singkat tersebut terjadi.
|
|||
| Last Updated on Sunday, 24 January 2010 05:55 |














