You are here:   Start Lembar Opini Hidup Menginspirasi atau Terinspirasi Film?
Hidup Menginspirasi atau Terinspirasi Film? PDF Print E-mail
Written by Tito Prabowo   
Wednesday, 04 February 2009 23:01

Tajuk artikel ini mengajukan intermezo sebuah tanya yang patut direnungkan. Adakah realitas kehidupan memberi inspirasi terhadap kreatifitas pembuatan karya-karya sinema. Atau justru sebaliknya, bahwa kehidupan nyata terlalu kental diwarnai oleh karya para sutradara film ternama.

 

Film merupakan karya imaji yang dipenuhi oleh fantasi dan khayalan. Fragmen yang menceritakan kesedihan—ataupun kebahagiaan, lahir dari sebuah proses kreatif para penulis skenario. Pun demikian, tentu tak sedikit film yang diangkat dari kehidupan nyata, tapi fakta mengungkapkan, ada jauh lebih banyak film - film yang merupakan khayalan para penulis skenarionya. Tuntutan pasar yang menghendaki adanya unsur hiburan dalam semua karya sinema telah memaksa para pekerja seni sinema melahirkan karya-karya imajinatif—terlepas kandungannya merupakan refleksi realitas masyarakat, atau justru mengelambungkan khayalan para penikmatnya.


Di tengah industri film yang mengagungkan materialisme, agaknya, ada satu hal yang terabaikan. Yakni, dampak yang diakibatkan oleh tayangan film tersebut terhadap penontonnya. Sejumlah penelitian yang dilakukan telah menciptakan relasi pengaruh yang kuat antara orang dewasa dengan jenis film yang dilihatnya. Sedangkan pada anak-anak, jelas jauh lebih berpengaruh. Kematian sejumlah anak di beberapa negara Eropa oleh teman sebaya adalah produk real dari tontonan kekerasa yang mereka nikmati.

Demikianlah, film memang mempengaruhi gaya hidup kita. Sejumlah orang berkeyakinan bahwa yang dipentaskan dalam film adalah kejadian yang sesungguhnya, walaupun mereka menyadari bahwa semua itu hanya sekadar film yang penuh dengan kisah fiksi. Dalam periode yang tak terlalu lama, namun berlangsung terus menerus, maka film juga akan mengimbuhi perannya selain alat penghibur, yaitu sebagai media pembentuk opini. Bila film berkata perbuatan A adalah baik, karena yang terjadi dalam film tersebut A itu sudah merupakan hal biasa, maka masyarakat pun akan beranggapan bahwa perbuatan A itu juga sebagai hal biasa.

Proses pembentukan opini melalui media film ini akan sangat bermanfaat sejauh apa yang diutarakan dalam film itu memang layak untuk ditiru. Akan tetapi, sebaliknya juga akan berakibat buruk apabila yang diangkat dalam film adalah perbuatan yang buruk, namun dipandang baik oleh film tersebut.

Sebagai contoh, baru–baru ini sebuah film layar lebar muncul dengan menampilkan gaya hidup yang mungkin hanya terjadi disebagian kecil masyarakat kota besar. Dalam film ini ditampilkan, betapa lumrahnya gaya hidup barat, seperti kehidupan seorang gay yang belum berani untuk berterus terang akan kelainan dirinya, gaya hidup istri–istri pengusaha kaya yang bebas bergaul dengan kaum muda adam, kehidupan seks bebas, dan bahkan memperlihatkan adegan-adegan yang seharusnya tak elok dipandang. Atau film layar lebar lain yang kini disorot oleh masyarakat, tentang kehidupan cinta remaja masa kini yang memaparkan betapa lumrahnya sepasang remaja melakukan ciuman bahkan didepan umum.

Tentunya masyarakat akan mengalami kegelisahan dan bertanya–tanya, apakah memang demikian kehidupan dikota besar. Sebagian masyarakat akan berasumsi, bahwa memang itulah yang terjadi dalam masyarakat kota besar, meskipun belum tentu benar. Pada tingkat inilah film membentuk opini masyarakat, yang tidak lama lagi akan diikuti dengan pergeseran pola fikir masyarakat. Sehingga, perbuatan yang dahulu dianggap tabu, kini mendobrak batas-batas kepantasan, kewajaran, dan kesantunan.

Di lain pihak, bila kondisi itu sungguh-sungguh terjadi pada masyarakat kota besar seperti Jakarta, maka fenomena demikian sekaligus menjadi bukti kemerosotan akhlaq masyarakat. Dan perlu pula dipertanyakan, dimana saja selama ini peran para da’i, sehingga masyarakat kita sebegitu parah terdekadensi moralnya. Adakah para da’i hanya menyentuh masyarakat bawah saja tanpa memperdulikan kalangan atas? Ini merupakan pekerjaan rumah untuk kita semua, dan bukan hanya bagi para sineas saja. Bukan untuk membatasi kreativitas, melainkan untuk masa depan anak–anak kita, karena kita adalah masyarakat itu dan hanya kita sendiri yang dapat menetukan masa depan kita.

Dimuat juga di PenulisLepas.com

Tags:

blog comments powered by Disqus
Last Updated on Tuesday, 06 July 2010 17:29
 

Inspirasi

Kunci
Segala sesuatu ada kuncinya untuk bisa dibuka. Wudhu adalah ...
Solusi
Andai kesusahan adalah hujan, dan kesenangan adalah mataha...
Inspirasi Gerak
Pemuda, tidak pernah menutup mulutnya karena ketakutan. Pemu...

Opini

Jakarta, Tempat Berkarir Paling Beresiko Kedua di Dunia
Indonesia, negeri yang termasuk negara yang paling terpengaruhi oleh korupsi di dun...
Genteng Bocor
Suatu sore di sebuah rumah, tinggal empat mahasiswa yang baru saja diterima di sala...

Nasihat

Tiga Nasihat Yang Tiga
Tiga perkara yang selalu menyelamatkan: Takut kepada Allah lahir batin. Hemat saa...
Sedekah
Sedekah adalah tanda dekatnya ia kepada Sang Maha Kaya. Karena ia merasa cukup. Karen...

More blog posts

Renungan Indah
Seringkali aku berkata,ketika semua orang memuji milikku,Bahwa sesungguhnya inihanyal...
Rumah Bahagia
Ini kisah tentang sebuah cerita,yang mungkin cuma sebuah mimpi.Cerita sebuah rumah ba...

Who's Online

We have 11 guests online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter