|
Written by Tito Prabowo
|
|
Friday, 23 March 2007 23:08 |
|

Kisah tentang anak manusia, dibuai angin dunia, perlahan menjauhi garis takdirnya, mimpi ayah bundanya.
Dipuji dan dipuja, seakan hidup adalah surga.
Sungguh, ia sadar akan lakunya, namun begitu nikmat untuk diacuhkan. Ia paham nikmatnya sementara, tapi esok masih pun ada.
Aku, tersenyum untuknya. Biar ia nikmati hari - harinya, walau esok, senja pasti kan menjelang.
Aku tahu, aku bisa sepertinya, bahkan kadang aku ingin layaknya dia.
Tapi, jalan ini terlalu pendek, sedang di seberang sana, terlalu lah abadi untuk kembali.
Terima kasih Rahiim... terima kasih. Karena aku masih di sini, di garis takdirku.
-- Terhenyak dalam dinginnya malam kota Darmstadt
|
|
Last Updated on Friday, 15 January 2010 21:10 |