|
Written by Tito Prabowo
|
|
Friday, 21 April 2006 23:47 |
|
Sepertiga revolusi keempat, Kautsar membuka mata, nampak onggokan sampah, topeng. Kautsar diam.
Jejak kemunafikan dan sia-sia dengan naif dan angkuhnya malah tertawa. Kautsar masih diam, dan terus diam.
Kelebat meremehkan dan sok tahu melambai-lambai minta perhatian, Kautsar ingin kembali, tanpa topeng, jejak, dan kelebat.
Tapi, jalan kembali itu telah pergi.
Kautsar lupa akan janji, lupa kalau dia buta, karena Kautsar lah, Kautsar tetap menjadi Kautsar
Kautsar melangkah, mencoba menjadi manfaat sambil tetap diam, dan terus diam, tidak banyak omong lagi.
Penuhi janji, Janji Kautsar.
Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadziban
-- “Dalam keheningan, berbisik kecil, sebuah obrolan malam bersama Kautsar…” Darmstadt, 03:00
|
|
Last Updated on Friday, 15 January 2010 21:45 |