|
Ini kisah tentang sebuah cerita, yang mungkin cuma sebuah mimpi.
Cerita sebuah rumah bahagia, gadis kecil dan bocah-bocah tanpa dosa, air mata, harapan dan cita-cita.
Gadis kecil menuntunku, menuju tempat dulu ia tinggal dan besar.
Masih, masih ramai akan cerita, duka mereka yang besar tanpa bahagia, sedih mereka hidup tanpa ayah bunda, haru mereka bersama segala kekurangan.
Setiap ruang, setiap halaman, ada sejumput keceriaan, sejenak untuk melupakan derita mereka.
Tawa lugu bocah tanpa dosa, bermain bersimpul dalam satu derita.
Ada lelaki kecil yang kukenal, bermain riang di tengah kerumuman, jelas beban dalam senyuman, seketika berteriak menjaga perasaan sang adik perempuannya.
Mereka bertiga, kusapa, kusalami dan kupeluk. Ada noktah bahagia tersirat, namun belum cukup mengobati luka lama, kesendirian di dunia, tanpa satu pun peduli menemani.
Ada air mata, tekad dan harapan, untuk menang menaklukan masa depan, agar semua itu hilang oleh kepedulian.
***
Gadis kecil menghampiriku, mengajakku melihat rapuhnya rumah bahagia, surga kecil tempat mereka mencari bahagia.
Masuk ke dalam kelas bebas usia, tempat mereka belajar seperti kita belajar, memuaskan inginnya, untuk sekedar menulis dan membaca.
Ada tangis dan tawa kecil bayi mungil, sendiri di pojok sana tanpa peduli dan mengerti, ia hanya ingin satu, senyuman seorang bunda, ya! Satu untuk semua.
Sesal dan tangis, tersedu di hadapan seorang gadis kecil. Kami hidup berkecukupan, tanpa satu peduli pun, atau ingin tahu derita mereka, menengok ingin mereka.
Kini, semua itu bukan sekedar mimpi, melainkan sebuah motivasi dan janji, untuk mengembalikan hati dan menguatkan diri, untuk saling berbagi, agar nanti, tidak lemah dan diam lagi, agar nanti, ada yang bisa diberi.
Doa dan salam menemani, semoga Allah memberkahi.
-- Sebuah mimpi pagi, "Rumah Bahagia" Darmstadt, 22 Agustus 2008
|